//pc
//hp
Minda Guru
Disdikbud Kab. Siak - 04 Maret 2021, Pukul 08:09 WIB

Oleh: L.N. Firdaus

Pensyarah di FKIP Universitas Riau

 

Ramai Guru sudah bergerak (move) tapi sejatinya belum berubah (change). Macam Ikan Kembung juga. Dia hanyut mengikuti aliran massa air kemana mengalir dari hulu ke hilir. Dimana tersangkut, di situ dia terhenti.

Hanya sedikit jumlah Guru macam Ikan Salmon yang sengaja bergerak menyongsong arus perubahan. Guru yang demikian itu tidak pernah terhenti bahkan tidak takut diberhentikan.

Hati dan pikirannya senantiasa risau—memberontak untuk sebuah perubahan sejati. Guru yang terakhir inilah yang pantas mengklaim dirinya sebagai Guru Penggerak.

Kebijakan strategis Merdeka belajar melalui Program Guru Penggerak diharapkan mampu mengguncang minda bawah sadar para Guru Indonesia.

Minda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pusat kesadaran yang membangkitkan pikiran, perasaan, ide dan persepsi, serta menyimpan pengetahuan dan ingatan.

Guncangan itu kelak akan memicu sirkuit will power (Scharmer, 2017)—saklar energi kekuatan dalaman yang seterusnya akan mengaktifkan reaktor transformatif paradigma berfikir Guru.

Tanpa perubahan minda, tidak akan ada perubahan fundamental yang melahirkan inovasi yang disruptif. Thomas Khun menandaskan bahwa revolusi Ilmu Pengetahuan hanya dimungkinkan jika terjadi pergeseran minda (paradigm shift).

Guru Penggerak harus mau menggusur minda lama dan menggantikannya dengan minda baru. Jikalau tak berdaya menggeser lempeng tektonik minda usang itu, maka dia akan tetap tegak sebagai guru yang melapuk (decay teachers) ditelan masa. Seribu tiga ratus enam puluh tahun lalu (656-661M), Ali bin Abi Thalib-salah satu Sahabat Utama Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada dunia, “Didiklah anakmu sesuai dengan Zamannya, Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu”.

Sekolah di serata dunia saat ini dinilai telah gagal memberikan pembelajaran (World Bank Report (2018). Disinyalir ada empat punca penyebab kegagalan itu.

Pertama, anak-didik yang tidak memiliki kesiapan untuk belajar. Dimensi ini membutuhkan sosok Guru Penggerak yang memiliki keinsafan untuk terus merevitalisasi fungsinya sebagai motivator, falisitator, dan manager Berkelas.

Kedua, Guru kebanyakan tidak terampil (lack of skills) dan motivasi dalaman untuk menjadi guru yang efektif. Meskipun secara hakiki, tujuan Pendidikan adalah membangun modal insan yang paripurna (learning to be), namun perkara keterampilan guru juga harus diasah lebih tajam (learning to do).

Sigihan McKinsey Intitute (2020) memperlihatkan adanya kesenjangan yang lebar antara keterampilan Guru dan Murid seluruh Dunia.

Perioritas utama penajaman keterampilan Guru pada tahun 2030 harus fokus pada literasi, berfikir kritis, numerasi, kepekaan sosial, komunikasi, kesadaran diri, dan kolaborasi. Sedangkan untuk siswa, harus difokuskan pada keterampilan digital, kreativitas, intra dan interpersonal skills, pemahaman intercultural dan etikal, serta manajemen diri.

Ketiga, input sekolah yang gagal menjangkau ruang kelas atau tidak secara langsung memengaruhi proses belajar mengajar.

Dimensi ini membutuhkan pergeseran minda kepala sekolah dari project-oriented minded ke learning outcome-oriented minded.
Keempat, rendahnya keterampilan dalam manajemen dan tata Kelola (school governance) sehingga tidak secara efektif memengaruhi proses belajar mengajar.

Divergensi fokus sekolah, guru dan keluarga terhadap pembelajaran sesungguhnya dipicu oleh gabungan dua kekuatan kunci, yaitu manajemen teknis dan perkara kekuatan politis pendidikan.

Keberhasilan kebijakan Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar dengan semua derivasi program dan kegiataannya amat sangat ditentukan oleh keberhasilan transformasi Minda Guru.

Terobosan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) melalui kemasan pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon guru penggerak harus dapat meyentuh ke relung hati Guru paling dasar sehingga mencuatkan Open Will, tidak cukup sekedar Open Mind dan Open Heart (Scharmer, 2018).

Tanpa itu, perubahan yang akan dituai hanya bersifat dangkal dan temporer. Ikhtiar itu membutuhkan sebuah keinsyafan Guru dalam memaknai misi mulianya secara hakiki dalam membangun peradaban yang cemerlang. Kalau tak melangkah, pasti kita tak akan pernah sampai di tempat berlabuh.

Wallahualam..

Editor       : Muhammad Ikhsan

Baca juga :

SIAK, (ANTARA) - Bupati SiakAlfedri mengapresiasi diluncurkannya Chanel "Disdikbud Siak Bedelau" di Youtube sebagai metode pembelajaran jarak jauh bekerjasama dengan Tanoto Foundation di masa Pandemi COVID-19 saat ini.

"Kami atas nama Pemkab Siak mengapresiasi terobosan atau inovasi yang dibuat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak ini yang bekerjasama dengan Tanoto Foundation," kata Alfedri, Rabu.

Ia sampaikan pembelajaran daring dinilai sejalan dengan salah satu visi Kabupaten Siak. Yaitu terwujudnya masyarakat kabupaten Siak yang cerdas dan sejalan dengan program Siak menuju 100 kabupaten/kota smart city di Indonesia.

Oleh karena itu, program ini diharapkannya akan menjadi program berkelanjutan baik dalam kondisi sekarang ini, dan masa yang akan datang. Melalui metoda belajar secara virtual ini pihaknya mendorong agar chanel youtube tersebut bisa berkembang.

"Dengan diluncurkannya program itu, sekaligus diharapkan dapat menjawab tantangan pendidikan saat ini, mengingat wilayah Kabupaten Siak yang cukup luas," sambungnya.

Kata Alfedri, sejak merebaknya wabah corona di Indonesia, Pemkab Siak pada pertengahan Maret 2020 lalu, telah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah. Namun kebijakan tersebut harus dipahami dan diketahui oleh masyarakat, mengingat kebijakan libur sekolah yang dibuatnya itu tentunya sistem proses belajar mengajar tetap berjalan (belajar di rumah).

Kepala Disdikbud Siak, Lukman, menambahkan, tujuan chanel Disdikbud Siak Bedelau ini dibuat untuk menyikapi proses belajar mengajar di masa wabah COVID-19. Ini dilakukan dengancara menunjuk guru yang kompeten sesuai kelas untuk SD/MI dan sesuai mata pelajaran untuk SMP/MTs.

"Ini adalah kerisauan dari rekan-rekan guru, orang tua murid maupun murid itu sendiri yang telah lama tidak bertatap muka dalam proses belajar dan mengajar," sebutnya.

Guru yang ditunjuk lanjutnya akan mengajar secara live dan akan disaksikan atau diikuti oleh guru-guru dan peserta didik yang lain se-Siak. Hal ini dilakukan untuk menjawab permasalahan bagi guru-guru yang masih lemah dengan teknologi dan juga masih lemah mendesain pembelajaran berbasis teknologi.

Lanjutnya, saat ini telah dilakukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP/MTs setiap mata pelajaran (mapel) secara daring. untuk membantu guru memahami pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi dan memotivasi guru untuk mengubah pola terhadap pola belajar dan mengajar di saat wabah Covid-19 ini.

"InsyaAllah akan dilakukan tindak lanjut MGMPvirtual berbasis rayon atau kecamatan dan akan menyusul KKG Virtual untuk guru-guru di SD/MI. Jika wabah COVID-19 ini masih berlangsung maka pembelajaran daring melalui channel youtube Disdikbud Siak Bedelau akan dimulai di awal Tahun Pelajaran 2020/2021 (bulan Juli 2020). (adv)

Pewarta : 
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020
BENGKALIS (Infosiak.com) – Sebagian besar masyarakat Kabupaten Siak dan masyarakat Kabupaten Bengkalis tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Datuk Laksamana Raja di Laut. Meski bukan keturunan raja maupun kerabat raja, Namun nama Datuk Laksamana Raja di Laut kerap disandingkan/dikaitkan dengan sejarah Kesultanan Kerajaan Siak.

Sebagai salah satu kerajaan yang pernah berkuasa hingga Selat Malaka, Kerajaan Siak tidak hanya meninggalkan jejak di sekitar aliran Sungai Siak saja, rumah/kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut yang berada di Desa Sukajadi Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, juga merupakan bagian dari warisan/peninggalan Kerajaan Siak.

Berdasarkan keterangan yang diterima Infosiak.com dari beberapa sumber, Datuk Laksamana Raja di Laut merupakan salah satu penggawa Kerajaan Siak yang mendapatkan tugas dari Raja Siak untuk mengamankan pesisir pantai di Selat Malaka. Ada Empat Datuk yang konon mendapatkan tugas dari Raja Siak untuk mengamankan pesisir pantai di perairan Selat Malaka, mereka adalah Datuk Ibrahim, Datuk Khamis, Datuk Abdullah Shaleh (bergelar Datuk Laksamana Raja di Laut III), dan Datuk Ali Akbar (bergelar Datuk Laksamana Raja di Laut IV).

Guna mendapatkan informasi tentang riwayat singkat Datuk Laksamana Raja di Laut itu, Infosiak.com juga telah meminta penjelasan dari sejumlah tokoh yang ada di Kabupaten Siak, termasuk kepada tokoh masyarakat Siak yang juga merupakan sejarawan Siak Datuk H Said Muzani, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Datuk H Said Muzani, riwayat hidup Datuk Laksamana Raja di Laut adalah orang kepercayaan Raja Siak yang ditugaskan di pesisir Laut.

“Iya, beliau (Datuk Laksamana Raja di Laut, red) ditugaskan oleh Sultan Siak untuk mengawasi dan mengamankan laut pesisir timur mulai selat Bengkalis, hingga perairan Dumai dan selat Melaka, dimana saat itu banyak lanun (bajak laut, red) yang kerap merompak pedagang-pedagang dari Sumatera yang melintas menuju Melaka,” terang Datuk H Said Muzani, Selasa (05/01/2020) siang, kepada Infosiak.com.

Situs peninggalan sejarah berupa rumah/kediaman Datuk Laksamana Raja di Laut yang ada di Kecamatan Bukit Batu itu, merupakan peninggalan Datuk Ali Akbar yang dikenal dengan sebutan Datuk Laksamana Raja di Laut IV. Berbeda dengan Istana Siak yang berada di pusat pemerintahan Kabupaten Siak. Butuh waktu sekitar 1,5 jam lewat jalur darat dari Kota Siak menuju tempat tersebut.

Selain rumah dan makam Datuk Laksamana Raja di Laut yang berlokasi di Desa Sukajadi Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis itu, juga terdapat 5 pucuk meriam kuno yang juga merupakan peninggalan sejarah dari Datuk Laksamana Raja di Laut. 5 pucuk meriam kuno tersebut berukuran panjang sekitar 2,5 meter, dan berdiameter sekitar 20 Cm.

Menurut cerita dari para orangtua, meriam kuno yang merupakan peninggalan dari Datuk Laksamana Raja di Laut itu, merupakan salah satu senjata yang digunakan oleh Datuk Laksamana Raja di Laut untuk mengusir serta menghadapi para perompak yang kerap menggangu keamanan di wilayah laut.

Wallahu A’lamu Bishshowab.

Laporan: Atok

Editor: Afrijon
SIAK (Infosiak.com) – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Siak Provinsi Riau, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) sudah mulai melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi jenjang pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kebijakan dimulainya PTM untuk jenjang pendidikan SD dan SMP di Kebupaten Siak itu berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) sejumlah Menteri serta adanya surat edaran yang dikeluarkan oleh Bupati Siak. Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Disdikbud Siak H Lukman M.Pd, melalui Kepala Bidang (Kabid) SMP Fahrurrozi M.Pd, Senin (04/01/2020) siang, saat dikonfirmasi Infosiak.com.

“Iya, dimulainya PTM secara terbatas ini berdasarkan SKB 4 Menteri dan edaran Bupati Siak,” jelas Fahrurrozi.

Meskipun pelaksanaan PTM secara terbatas sudah mulai diberlakukan di Siak, namun sistem pembelajaran yang diterapkan di Sekolah berbeda dengan hari-hari biasa saat sebelum adanya wabah Covid-19. Dimana sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

“Sekolah harus patuh dengan protokol kesehatan (Prokes), lakukan secara ketat. Jangan mengambil kebijakan di luar dari ketentuan yang sudah disampaikan. Insya Allah PTM ini akan dievaluasi paling lambat 2 bulan ke depan untuk pengambilan kebijakan berikutnya,” lanjut Fahrurrozi.

Disamping itu, Kabid SMP Disdikbud Siak itu juga mengucapkan rasa terimakasih kepada segenap kepala sekolah yang telah mempersiapkan berbagai keperluan menjelang dimulainya pembelajaran tatap muka secara terbatas di sekolah.

“Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh Kepala SMP se-Kabupaten Siak yang telah mempersiapkan dan memenuhi daftar periksa yang menjadi kewajiban untuk melaksanakan PTM. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa,” tutup Fahrurrozi.

Terkait telah dimulainya pembelajaran tatap muka secara terbatas tersebut, Kepala SMPN 5 Dayun Irmanita S.Pd menyebutkan, pihaknya menerapkan sistem pembelajaran dengan berbagi shift, ada siswa yang belajar di hari Senin dan Rabu, dan ada pula yang belajar di hari Selasa dan Kamis.

“Hari ini kita sudah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas di SMPN 5 Dayun. Untuk sistem belajarnya kita bagi shift, dimana setiap kelas tidak lebih dari 13 orang yang mengikuti pelajaran. Ada yang belajarnya hari Senin dan Rabu, dan ada pula yang hari Selasa dan Kamis,” ujar Irmanita.

Dijelaskannya juga, dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka di SMPN 5 Dayun tersebut, pihak SMPN 5 Dayun tetap menerapkan sistem pembelajaran sesuai arahan dan ketentuan yang telah disampaikan oleh pihak Disdikbud Siak.

“Kita melaksanakan pembelajaran tatap muka sesuai apa yang sudah disampaikan oleh Disdikbud Siak, yakni jam belajar dilaksanakan dari jam 08-00 sampai 11:00 WIB, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (Prokes),” tutup Irmanita.

Laporan: Atok
Editor: Afrijon