//pc
//hp
Baru 59 Persen Guru PAUD yang Sarjana, Pemkab Siak Teken MoU dengan Unilak
Disdikbud Kab. Siak - 13 April 2021, Pukul 08:42 WIB

SIAK (CAKAPLAH) - Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Siak ternyata masih banyak yang belum menyandang status sarjana.

Bupati Siak Alfedri merincikan, dari jumlah seluruh tenaga didik PAUD di Siak sebanyak 946 orang, di antaranya yang berstatus sarjana sebanyak 558 (59%), dan non sarjana 388 (41%).

Oleh karena itu, Pemkab Siak berkomitmen untuk meningkatkan SDM guru PAUD di Siak dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak) tentang meningkatkan pendidikan, pengajar dan pengabdian kepada masyarakat.

Alfedri menjelaskan, penandatanganan MoU tersebut bukan hanya program bagi tenaga pendidik namun berlaku juga untuk meningkatkan SDM aparatur pemerintahan di Kabupaten Siak.

"Ini salah satu upaya untuk meningkatkan tenaga pendidik di Siak," kata Alfedri usai melakukan penandatanganan Mou dengan Unilak di Gedung Batin Djaonang, Kantor Camat Minas, Jumat (9/4/2021).

Lanjut Alfedri, Kemendagri, Kemendikbud dan Kemendes PDTT juga sudah melakukan MoU dan kolaborasi untuk meningkatkan potensi SDM pada tenaga pendidik, ASN dan aparatur desa di Indonesia.

"Jadi sekarang ini bagi guru-guru PAUD yang ingin kuliah, tidak perlu datang ke kampus. Proses belajar mengajar bisa dilakukan secara daring. Ini akan lebih efisien untuk guru menyelesaikan pendidikan sarjananya, tak ada alasan untuk tidak kuliah," kata dia.

Untuk guru SD, kata Alfedri, jumlah guru seluruhnya di Siak ada 3.587 orang, terdiri dari 90 persen sudah sarjana dan tinggal 10 persen lagi yang belum.

Sedangkan guru SMP sebanyak 94 persen sudah berstatus sarjana dari total 1.733 orang tenaga guru SMP.***

Penulis:Wahyu
Editor:Jef Syahrul
Kategori:PendidikanKabupaten Siak

Baca juga :

SIAK, (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak melaksanakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) secara daring menyiasati Pandemi COVID-19 yang melanda dunia.

Kepala Disdikbud Siak LukmanM.Pd membuka kegiatan tersebut tersebut dengan kerjasama dengan beberapa dosen dari perguruan tinggi yang ada di Riau. Ini untuk memberikan berbagai bentuk solusi atau alternatif pembelajaran yang dirangkum dalam tema "Pola mengajar dan belajar di rumah.

"Harapannya adalah memperoleh pengetahuan, pemahaman dan alternatif pola belajar jarak jauh bagi guru mata pelajaran. Dalam hal ini guru mata pelajaran wajib mengikuti MGMP virtual melalui daring ini," katanya dalam pembukaan kegiatan MGMPvirtual melalui zoom meeting ini.

Narasumber yang digandeng oleh Disdikbud Siak adalah Prof. Dr. Mahdum, M.Pd Dekan FKIP UNRI, Prof. Dr. Alaiddin Koto, MA Ketua ICMI Riau, Dr. Zul Irfan Aziz, M.Si Dosen FKIP UNRI. Ada juga Dendi Satria Buana Provincial Coordinator Tanoto Foundation Riau dan Dr. Syafi’i Ketua PGRI Provinsi Riau.

Sementara penyelenggara kegiatan MGMP Virtual melalui daring adalah Fakhrrurrazi, M.Pd. Dia merupakan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak sekaligus menjadi Host dalam kegiatan tersebut.

Para narasumber berkomitmen untuk bersama-sama mendorong transformasi dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka di kelas menjadi pembelajaran jarak jauh baik daring maupun luring. Mereka juga menyampaikan bahwa sudah menjadi keharusan bagi guru-guru dan tenaga pendidikan untuk menguasai Teknologi Informasi seiring dengan dikembangkannya Blended Learning dalam dunia pendidikan.

"MGMP virtual yang diselenggarakan oleh Disdikbud Kabupaten Siak merupakan salah satu tahap dari transformasi tersebut, mari kita sukseskan," ujar Lukman.

COVID-19 telah memberi dampak terhadap berbagai sektor penting kehidupan seperti kesehatan, ekonomi, sosial dan pendidikan.

Pendidikan merupakan sektor strategis yang terdampak cukup signifikan.

Pandemikini membuat para pelaku pendidikan untuk beberapa waktu tidak lagi bisa melangsungkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tidak bisa mengampu secara langsung dengan siswa yang merupakan generasi masa depan bangsa ini. 

Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Oleh: L.N. Firdaus

Pensyarah di FKIP Universitas Riau

 

Ramai Guru sudah bergerak (move) tapi sejatinya belum berubah (change). Macam Ikan Kembung juga. Dia hanyut mengikuti aliran massa air kemana mengalir dari hulu ke hilir. Dimana tersangkut, di situ dia terhenti.

Hanya sedikit jumlah Guru macam Ikan Salmon yang sengaja bergerak menyongsong arus perubahan. Guru yang demikian itu tidak pernah terhenti bahkan tidak takut diberhentikan.

<iframe id="aswift_2" name="aswift_2" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" width="726" height="0" frameborder="0" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?us_privacy=1---&client=ca-pub-1322653235829720&output=html&h=280&adk=1715372263&adf=1437182526?=t.aa~a.1606935778~i.10~rp.4&w=726&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1625628514#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=5176261072&psa=1&ad_type=text_image&format=726x280&url=https://www.batamnews.co.id/berita-73973-minda-guru.html&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=182&rw=726&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&adsid=ChAI8P6PhwYQ092Ut-zqtPVAEj0AXZO5zrNMiW2GH3rlP_-wlj0BP60alJ_30XMHo5cb-2_Uaek3ml3QixtFRZ5uzfc5hkN9T6DLDu_UQ9TL&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMTQiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&tt_state=W3siaXNzdWVyT3JpZ2luIjoiaHR0cHM6Ly9hZHNlcnZpY2UuZ29vZ2xlLmNvbSIsInN0YXRlIjo2fSx7Imlzc3Vlck9yaWdpbiI6Imh0dHBzOi8vYXR0ZXN0YXRpb24uYW5kcm9pZC5jb20iLCJzdGF0ZSI6N31d&dt=1625628513656&bpp=3&bdt=5151&idt=-M&shv=r20210630&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=a1a061981ff644a5-22547d32f8c500f3:T=1612834306:RT=1612834306:S=ALNI_MaliN5znsT2zYbqk5OMKgGy0iSrYA&prev_fmts=726x435,0x0&nras=2&correlator=4788131899097&frm=20&pv=1&ga_vid=1276187461.1612834308&ga_sid=1625628513&ga_hid=170199180&ga_fc=0&u_tz=-420&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=145&ady=703&biw=1349&bih=625&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956,31060972,42531225,21067496,31061661&oid=3&pvsid=1795846978765687&pem=32&eae=0&fc=384&brdim=0,0,0,0,1366,0,1366,728,1366,625&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&jar=2021-06-11-03&ifi=3&uci=a!3&btvi=2&fsb=1&xpc=z23s289X4x&p=https://www.batamnews.co.id&dtd=924" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" allowfullscreen="true" trusttoken="{"type":"send-redemption-record","issuers":["https://adservice.google.com"],"refreshPolicy":"none","signRequestData":"include","includeTimestampHeader":true,"additionalSignedHeaders":["sec-time","Sec-Redemption-Record"],"additionalSigningData":"eyJ1cmwiOiJodHRwczovL3d3dy5iYXRhbW5ld3MuY28uaWQvYmVyaXRhLTczOTczLW1pbmRhLWd1cnUuaHRtbCJ9"}" allow="conversion-measurement" data-google-container-id="a!3" data-google-query-id="CIzftJGC0PECFT6E6QUdZo4M6Q" data-load-complete="true" style="max-width: 100%; vertical-align: middle; left: 0px; position: absolute; top: 0px; border-width: 0px; border-style: initial; width: 726px; height: 0px;"></iframe>

Hati dan pikirannya senantiasa risau—memberontak untuk sebuah perubahan sejati. Guru yang terakhir inilah yang pantas mengklaim dirinya sebagai Guru Penggerak.

Kebijakan strategis Merdeka belajar melalui Program Guru Penggerak diharapkan mampu mengguncang minda bawah sadar para Guru Indonesia.

<iframe id="aswift_3" name="aswift_3" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" width="726" height="0" frameborder="0" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?us_privacy=1---&client=ca-pub-1322653235829720&output=html&h=280&adk=1715372263&adf=2382266057?=t.aa~a.1606935778~i.14~rp.4&w=726&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1625628514#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=5176261072&psa=1&ad_type=text_image&format=726x280&url=https://www.batamnews.co.id/berita-73973-minda-guru.html&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=182&rw=726&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&adsid=ChAI8P6PhwYQ092Ut-zqtPVAEj0AXZO5zrNMiW2GH3rlP_-wlj0BP60alJ_30XMHo5cb-2_Uaek3ml3QixtFRZ5uzfc5hkN9T6DLDu_UQ9TL&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMTQiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&tt_state=W3siaXNzdWVyT3JpZ2luIjoiaHR0cHM6Ly9hZHNlcnZpY2UuZ29vZ2xlLmNvbSIsInN0YXRlIjo2fSx7Imlzc3Vlck9yaWdpbiI6Imh0dHBzOi8vYXR0ZXN0YXRpb24uYW5kcm9pZC5jb20iLCJzdGF0ZSI6N31d&dt=1625628513656&bpp=1&bdt=5151&idt=-M&shv=r20210630&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=a1a061981ff644a5-22547d32f8c500f3:T=1612834306:RT=1612834306:S=ALNI_MaliN5znsT2zYbqk5OMKgGy0iSrYA&prev_fmts=726x435,0x0,726x280&nras=3&correlator=4788131899097&frm=20&pv=1&ga_vid=1276187461.1612834308&ga_sid=1625628513&ga_hid=170199180&ga_fc=0&u_tz=-420&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=145&ady=1143&biw=1349&bih=625&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956,31060972,42531225,21067496,31061661&oid=3&pvsid=1795846978765687&pem=32&eae=0&fc=384&brdim=0,0,0,0,1366,0,1366,728,1366,625&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&jar=2021-06-11-03&ifi=4&uci=a!4&btvi=3&fsb=1&xpc=H1xoo8NNR1&p=https://www.batamnews.co.id&dtd=930" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" allowfullscreen="true" trusttoken="{"type":"send-redemption-record","issuers":["https://adservice.google.com"],"refreshPolicy":"none","signRequestData":"include","includeTimestampHeader":true,"additionalSignedHeaders":["sec-time","Sec-Redemption-Record"],"additionalSigningData":"eyJ1cmwiOiJodHRwczovL3d3dy5iYXRhbW5ld3MuY28uaWQvYmVyaXRhLTczOTczLW1pbmRhLWd1cnUuaHRtbCJ9"}" allow="conversion-measurement" data-google-container-id="a!4" data-google-query-id="CJPjt5GC0PECFRA_vQodi78LVA" data-load-complete="true" style="max-width: 100%; vertical-align: middle; left: 0px; position: absolute; top: 0px; border-width: 0px; border-style: initial; width: 726px; height: 0px;"></iframe>

Minda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pusat kesadaran yang membangkitkan pikiran, perasaan, ide dan persepsi, serta menyimpan pengetahuan dan ingatan.

Guncangan itu kelak akan memicu sirkuit will power (Scharmer, 2017)—saklar energi kekuatan dalaman yang seterusnya akan mengaktifkan reaktor transformatif paradigma berfikir Guru.

<iframe id="aswift_4" name="aswift_4" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" width="726" height="0" frameborder="0" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?us_privacy=1---&client=ca-pub-1322653235829720&output=html&h=280&adk=1715372263&adf=1753502821?=t.aa~a.1606935778~i.18~rp.4&w=726&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1625628514#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=5176261072&psa=1&ad_type=text_image&format=726x280&url=https://www.batamnews.co.id/berita-73973-minda-guru.html&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=182&rw=726&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&adsid=ChAI8P6PhwYQ092Ut-zqtPVAEj0AXZO5zrNMiW2GH3rlP_-wlj0BP60alJ_30XMHo5cb-2_Uaek3ml3QixtFRZ5uzfc5hkN9T6DLDu_UQ9TL&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMTQiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&tt_state=W3siaXNzdWVyT3JpZ2luIjoiaHR0cHM6Ly9hZHNlcnZpY2UuZ29vZ2xlLmNvbSIsInN0YXRlIjo2fSx7Imlzc3Vlck9yaWdpbiI6Imh0dHBzOi8vYXR0ZXN0YXRpb24uYW5kcm9pZC5jb20iLCJzdGF0ZSI6N31d&dt=1625628513656&bpp=1&bdt=5151&idt=-M&shv=r20210630&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=a1a061981ff644a5-22547d32f8c500f3:T=1612834306:RT=1612834306:S=ALNI_MaliN5znsT2zYbqk5OMKgGy0iSrYA&prev_fmts=726x435,0x0,726x280,726x280&nras=4&correlator=4788131899097&frm=20&pv=1&ga_vid=1276187461.1612834308&ga_sid=1625628513&ga_hid=170199180&ga_fc=0&u_tz=-420&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=145&ady=1583&biw=1349&bih=625&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956,31060972,42531225,21067496,31061661&oid=3&pvsid=1795846978765687&pem=32&eae=0&fc=384&brdim=0,0,0,0,1366,0,1366,728,1366,625&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&jar=2021-06-11-03&ifi=5&uci=a!5&btvi=4&fsb=1&xpc=dlTikM73yb&p=https://www.batamnews.co.id&dtd=936" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" allowfullscreen="true" trusttoken="{"type":"send-redemption-record","issuers":["https://adservice.google.com"],"refreshPolicy":"none","signRequestData":"include","includeTimestampHeader":true,"additionalSignedHeaders":["sec-time","Sec-Redemption-Record"],"additionalSigningData":"eyJ1cmwiOiJodHRwczovL3d3dy5iYXRhbW5ld3MuY28uaWQvYmVyaXRhLTczOTczLW1pbmRhLWd1cnUuaHRtbCJ9"}" allow="conversion-measurement" data-google-container-id="a!5" data-google-query-id="CN6HuJGC0PECFQJevQodzLIOjw" data-load-complete="true" style="max-width: 100%; vertical-align: middle; left: 0px; position: absolute; top: 0px; border-width: 0px; border-style: initial; width: 726px; height: 0px;"></iframe>

Tanpa perubahan minda, tidak akan ada perubahan fundamental yang melahirkan inovasi yang disruptif. Thomas Khun menandaskan bahwa revolusi Ilmu Pengetahuan hanya dimungkinkan jika terjadi pergeseran minda (paradigm shift).

<iframe id="aswift_5" name="aswift_5" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" width="726" height="0" frameborder="0" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?us_privacy=1---&client=ca-pub-1322653235829720&output=html&h=280&adk=1715372263&adf=3774631125?=t.aa~a.1606935778~i.20~rp.4&w=726&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1625628514#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=5176261072&psa=1&ad_type=text_image&format=726x280&url=https://www.batamnews.co.id/berita-73973-minda-guru.html&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=182&rw=726&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&adsid=ChAI8P6PhwYQ092Ut-zqtPVAEj0AXZO5zrNMiW2GH3rlP_-wlj0BP60alJ_30XMHo5cb-2_Uaek3ml3QixtFRZ5uzfc5hkN9T6DLDu_UQ9TL&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMTQiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&tt_state=W3siaXNzdWVyT3JpZ2luIjoiaHR0cHM6Ly9hZHNlcnZpY2UuZ29vZ2xlLmNvbSIsInN0YXRlIjo2fSx7Imlzc3Vlck9yaWdpbiI6Imh0dHBzOi8vYXR0ZXN0YXRpb24uYW5kcm9pZC5jb20iLCJzdGF0ZSI6N31d&dt=1625628513656&bpp=1&bdt=5151&idt=-M&shv=r20210630&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=a1a061981ff644a5-22547d32f8c500f3:T=1612834306:RT=1612834306:S=ALNI_MaliN5znsT2zYbqk5OMKgGy0iSrYA&prev_fmts=726x435,0x0,726x280,726x280,726x280&nras=5&correlator=4788131899097&frm=20&pv=1&ga_vid=1276187461.1612834308&ga_sid=1625628513&ga_hid=170199180&ga_fc=0&u_tz=-420&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=145&ady=1978&biw=1349&bih=625&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956,31060972,42531225,21067496,31061661&oid=3&pvsid=1795846978765687&pem=32&eae=0&fc=384&brdim=0,0,0,0,1366,0,1366,728,1366,625&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&jar=2021-06-11-03&ifi=6&uci=a!6&btvi=5&fsb=1&xpc=tbTAknfBmH&p=https://www.batamnews.co.id&dtd=942" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" allowfullscreen="true" trusttoken="{"type":"send-redemption-record","issuers":["https://adservice.google.com"],"refreshPolicy":"none","signRequestData":"include","includeTimestampHeader":true,"additionalSignedHeaders":["sec-time","Sec-Redemption-Record"],"additionalSigningData":"eyJ1cmwiOiJodHRwczovL3d3dy5iYXRhbW5ld3MuY28uaWQvYmVyaXRhLTczOTczLW1pbmRhLWd1cnUuaHRtbCJ9"}" allow="conversion-measurement" data-google-container-id="a!6" data-google-query-id="CPv3u5GC0PECFdmB6QUd-pUG9g" data-load-complete="true" style="max-width: 100%; vertical-align: middle; left: 0px; position: absolute; top: 0px; border-width: 0px; border-style: initial; width: 726px; height: 0px;"></iframe>

Guru Penggerak harus mau menggusur minda lama dan menggantikannya dengan minda baru. Jikalau tak berdaya menggeser lempeng tektonik minda usang itu, maka dia akan tetap tegak sebagai guru yang melapuk (decay teachers) ditelan masa. Seribu tiga ratus enam puluh tahun lalu (656-661M), Ali bin Abi Thalib-salah satu Sahabat Utama Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada dunia, “Didiklah anakmu sesuai dengan Zamannya, Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu”.

<iframe id="aswift_6" name="aswift_6" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" width="726" height="0" frameborder="0" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?us_privacy=1---&client=ca-pub-1322653235829720&output=html&h=200&adk=92719441&adf=4242235386?=t.aa~a.1606935778~i.22~rp.4&w=726&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1625628514#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=5176261072&psa=1&ad_type=text_image&format=726x200&url=https://www.batamnews.co.id/berita-73973-minda-guru.html&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=182&rw=726&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&adsid=ChAI8P6PhwYQ092Ut-zqtPVAEj0AXZO5zrNMiW2GH3rlP_-wlj0BP60alJ_30XMHo5cb-2_Uaek3ml3QixtFRZ5uzfc5hkN9T6DLDu_UQ9TL&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMCIsIng4NiIsIiIsIjkxLjAuNDQ3Mi4xMTQiLFtdLG51bGwsbnVsbCxudWxsXQ..&tt_state=W3siaXNzdWVyT3JpZ2luIjoiaHR0cHM6Ly9hZHNlcnZpY2UuZ29vZ2xlLmNvbSIsInN0YXRlIjo2fSx7Imlzc3Vlck9yaWdpbiI6Imh0dHBzOi8vYXR0ZXN0YXRpb24uYW5kcm9pZC5jb20iLCJzdGF0ZSI6N31d&dt=1625628513656&bpp=1&bdt=5151&idt=1&shv=r20210630&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=a1a061981ff644a5-22547d32f8c500f3:T=1612834306:RT=1612834306:S=ALNI_MaliN5znsT2zYbqk5OMKgGy0iSrYA&prev_fmts=726x435,0x0,726x280,726x280,726x280,726x280&nras=6&correlator=4788131899097&frm=20&pv=1&ga_vid=1276187461.1612834308&ga_sid=1625628513&ga_hid=170199180&ga_fc=0&u_tz=-420&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1366&u_ah=728&u_aw=1366&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=145&ady=2448&biw=1349&bih=625&scr_x=0&scr_y=0&eid=31060956,31060972,42531225,21067496,31061661&oid=3&pvsid=1795846978765687&pem=32&eae=0&fc=384&brdim=0,0,0,0,1366,0,1366,728,1366,625&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&jar=2021-06-11-03&ifi=7&uci=a!7&btvi=6&fsb=1&xpc=noumhqGBZT&p=https://www.batamnews.co.id&dtd=947" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" allowfullscreen="true" trusttoken="{"type":"send-redemption-record","issuers":["https://adservice.google.com"],"refreshPolicy":"none","signRequestData":"include","includeTimestampHeader":true,"additionalSignedHeaders":["sec-time","Sec-Redemption-Record"],"additionalSigningData":"eyJ1cmwiOiJodHRwczovL3d3dy5iYXRhbW5ld3MuY28uaWQvYmVyaXRhLTczOTczLW1pbmRhLWd1cnUuaHRtbCJ9"}" allow="conversion-measurement" data-google-container-id="a!7" data-google-query-id="CJn1vpGC0PECFYMQvQod9ssHhg" data-load-complete="true" style="max-width: 100%; vertical-align: middle; left: 0px; position: absolute; top: 0px; border-width: 0px; border-style: initial; width: 726px; height: 0px;"></iframe>

Sekolah di serata dunia saat ini dinilai telah gagal memberikan pembelajaran (World Bank Report (2018). Disinyalir ada empat punca penyebab kegagalan itu.

Pertama, anak-didik yang tidak memiliki kesiapan untuk belajar. Dimensi ini membutuhkan sosok Guru Penggerak yang memiliki keinsafan untuk terus merevitalisasi fungsinya sebagai motivator, falisitator, dan manager Berkelas.

Kedua, Guru kebanyakan tidak terampil (lack of skills) dan motivasi dalaman untuk menjadi guru yang efektif. Meskipun secara hakiki, tujuan Pendidikan adalah membangun modal insan yang paripurna (learning to be), namun perkara keterampilan guru juga harus diasah lebih tajam (learning to do).

Sigihan McKinsey Intitute (2020) memperlihatkan adanya kesenjangan yang lebar antara keterampilan Guru dan Murid seluruh Dunia.

Perioritas utama penajaman keterampilan Guru pada tahun 2030 harus fokus pada literasi, berfikir kritis, numerasi, kepekaan sosial, komunikasi, kesadaran diri, dan kolaborasi. Sedangkan untuk siswa, harus difokuskan pada keterampilan digital, kreativitas, intra dan interpersonal skills, pemahaman intercultural dan etikal, serta manajemen diri.

Ketiga, input sekolah yang gagal menjangkau ruang kelas atau tidak secara langsung memengaruhi proses belajar mengajar.

Dimensi ini membutuhkan pergeseran minda kepala sekolah dari project-oriented minded ke learning outcome-oriented minded.
Keempat, rendahnya keterampilan dalam manajemen dan tata Kelola (school governance) sehingga tidak secara efektif memengaruhi proses belajar mengajar.

Divergensi fokus sekolah, guru dan keluarga terhadap pembelajaran sesungguhnya dipicu oleh gabungan dua kekuatan kunci, yaitu manajemen teknis dan perkara kekuatan politis pendidikan.

Keberhasilan kebijakan Nadiem Makarim tentang Merdeka Belajar dengan semua derivasi program dan kegiataannya amat sangat ditentukan oleh keberhasilan transformasi Minda Guru.

Terobosan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) melalui kemasan pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon guru penggerak harus dapat meyentuh ke relung hati Guru paling dasar sehingga mencuatkan Open Will, tidak cukup sekedar Open Mind dan Open Heart (Scharmer, 2018).

Tanpa itu, perubahan yang akan dituai hanya bersifat dangkal dan temporer. Ikhtiar itu membutuhkan sebuah keinsyafan Guru dalam memaknai misi mulianya secara hakiki dalam membangun peradaban yang cemerlang. Kalau tak melangkah, pasti kita tak akan pernah sampai di tempat berlabuh.

Wallahualam..

Siak (ANTARA) - Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan tantangan yang tidak mudah bagi para guru terlebih lagi memastikan layanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK). Seperti yang dialami, Ranti Elvira, Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Mempura, Kabupaten Siak. 

SMPN 2 Mempura merupakan salah satu sekolah inklusi yang ada di Kabupaten Siak. Sekolah yang merupakan mitra Tanoto Foundation ini dikelilingi hutan dan kebun sawit terletak di Kampung Merempan Hilir, Kecamatan Mempura. 

Ranti menjelaskan bahwa peserta didik yang terkategorikan ABK tidak hanya yang difabel saja. Tetapi juga ada yang putus hubungan dengan dunia luar karena beberapa faktor. 

"Salah satunya peserta didik di kelas saya, Ananda termasuk ABK karena broken home. Hal ini yang diduga kuat menyebabkannya tidak peduli dengan dunia luar. Misalnya tidak peduli dengan pelajaran di sekolah, tidak mempan dinasihati atau pun dimarahi orang tuanya," tuturnya.

Total ada delapan siswa berkebutuhan khusus terbagi atas tujuh orang dengan kategori lamban/kesulitan belajar dan satu orang tuna laras. 

Oleh karena itu, kata Ranti, dalam menghadapi peserta didik ABK dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Apalagi saat ini situasinya siswa harus belajar dari rumah. 

Mau tak mau dalam mengimplementasikan PJJ dengan siswa berkebutuhan khusus mempunyai tantangan tersendiri. Namun yang terpenting, menurut Ranti, harus memiliki kesabaran dan ketelatenan. 

"Jangankan mengikuti materi yang kami bagikan di Grup WhatsApp kelas, absen saja tidak dibaca. Saya pernah menelpon dan malah ditolak. Materi tidak dibaca dan tidak ditanggapi," ucapnya. 

Namun demi memenuhi layanan pendidikan kepada peserta didik ABK, Ranti ditemani guru inklusi lainnya Iwan, akhirnya memutuskan secara khusus mendatangi siswa di rumahnya.
Sebagai wali kelas dia juga menanyakan kendala dan memberikan opsi untuk solusinya, sementara guru mata pelajaran ada yang door to door untuk memberikan LKPD.

Tapi kegiatan ini bukan tak ada masalah juga seperti sulitnya menuju rumah peserta didik yang tersebar di sekitar hutan dan kebun kelapa sawit. Bahkan saat musim hujan, dia harus melewati genangan air setinggi lutut.

"Kalau musim hujan saya harus menyiapkan sepatu boots karena di daerah sana sering banjir. Hal ini dikarenakan mayoritas wilayahnya lahan gambut. Jadi kalau hujan air menggenang sampai setinggi lutut orang dewasa," ungkapnya. 

Tiba di rumah datang lagi tantangan terbesar menghadapi peserta didik ABK yakni orangtuanya sendiri. Tersebab perhatian dan peran serta orang tua dalam mendampingi siswa ABK sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang siswa.

Pada pembelajaran aktif untuk ABK ini Ranti memulai pembelajaran dengan menerapkan konsep MAU yang artinya mengkondisikan, aktifkan, dan umpan balik. Seperti yang dia terapkan kepada ananda Aidil Fitriansyah, peserta didik yang diberi keistimewaan suka menyendiri dan lamban dalam belajar. 

"Saya memulai pembelajaran dengan menanyakan ke ananda kenapa tidak merespon sama sekali di grup. Saya juga berdiskusi dengan orangtuanya. Setelah mengetahui persoalannya, saya mulai menyampaikan materi pelajaran," ujarnya.

Ranti juga tetap berusaha memasukkan unsur pembelajaran aktif seperti mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi atau yang dikenal dengan MIKIR. Pada tahapan mengalami, Ranti mengajak peserta didik untuk mengenal barang-barang apa yang ada sekitar rumahnya. 

"Sebelum masuk ke penjelasan tentang jenis-jenis seni rupa, saya mengajak ananda melihat barang-barang di sekitar rumahnya dan memintanya menjelaskan fungsi barang tersebut. Aidil berhasil menjelaskan barang berikut fungsinya dengan cukup baik, seperti foto, lemari, kursi, meja, dan tempat tidur," jelasnya.

Kemudian pada tahapan interaksi, Ranti meminta peserta didik mengidentifikasi barang tersebut masuk ke dalam jenis seni rupa apa. Ranti menjelaskan bahwa jenis seni rupa terbagi menjadi dua, pertama seni rupa berdasarkan bentuk, kedua seni rupa berdasarkan fungsinya. 

Berdasarkan bentuk terbagi menjadi seni rupa dua dan tiga dimensi. Sedangkan berdasarkan fungsi terbagi menjadi murni dan terapan. 

"Pada saat mengidentifikasi barang-barang tersebut, ananda mulai nampak kesulitan. Ananda masih belum memahami konsep jenis seni rupa baik berdasarkan bentuk maupun fungsinya meskipun telah dijelaskan sebelumnya,” jelasnya. 

Ranti secara perlahan membantu mengidentifikasi barang di sekitar rumahnya berdasarkan bentuk dan fungsinya. Kemudian dia meminta peserta didik untuk menggambar barang yang ada di sekitarnya. Pada tahap ini nampak sekali peserta didik tidak percaya diri.

"Aidil memilih menggambar meja yang di atasnya ada televisi dan speaker. Saat menggambar Aidil ragu sekali. Dia memutar-mutar kertas. Dia menggaris, dihapus, begitu seterusnya," tambah dia.

Guru untuk kebutuhan khusus mengajar dari rumah ke rumah. (ANTARA/HO-TF)

Pada momen ini, Iwan selaku guru yang khusus menangani siswa inklusi berperan memberikan motivasi dan mengarahkan peserta didik untuk menyelesaikan tugasnya. Dia meminta jangan ragu, buat saja dulu, tidak apa-apa salah, yang penting selesaikan dulu.
 
Kemudian memasuki tahap komunikasi, Ranti meminta peserta didik menjelaskan gambar yang telah berhasil dibuat. Lalu mengidentifikasikannya ke dalam jenis seni rupa. 

Pada tahap komunikasi ini peserta didik sangat kesulitan dan kehilangan rasa percaya dirinya sehingga dia dan Iwan secara perlahan terus mendampingi dan memotivasinya. Di tahap refleksi, Ranti kembali memotivasi peserta didik bahwa mereka juga bisa mengerjakan dengan baik apa yang ditugaskan oleh guru. 

"Di akhir pembelajaran, saya kembali memotivasi Aidil agar mau terus belajar dan memuji sisi positif yang dimilikinya. Hal ini penting untuk memberikan rasa percaya diri bagi Aidil," pungkasnya.  

Pewarta : Bayu Agustari Adha

Editor : Riski Maruto